Mrll Kerobokan Kelod, Muter Sedikit Justru Sampai Lebih Cepat

MRLL Kerobokan Kelod, Muter Sedikit Justru Sampai Lebih Cepat
Kalau selama ini warga Kerobokan Kelod percaya bahwa jalan lurus adalah jalan tercepat, maka Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas (MRLL) versi Pemkab Badung datang untuk membantah keyakinan itu. Kini, muter dikit justru bikin sampai lebih cepat. Ajaib? Tidak juga. Ini cuma soal logika lalu lintas yang akhirnya dipaksa bekerja.
 
Sejak Desember 2025, sembilan persimpangan di Kerobokan Kelod “dirombak cara berpikirnya”. Jalan yang dulu bisa belok ke mana saja, sekarang disuruh satu arah. Hasilnya? Antrean kendaraan berkurang, waktu tempuh menyusut, dan persimpangan yang dulu hobi macet mulai kelihatan bernapas.
 
Tentu saja, volume kendaraan masih tinggi. Ini Kerobokan, bukan desa biasa. Tapi setidaknya sekarang kendaraan bergerak lebih tertib. Tidak lagi adu dengkul di simpang, tidak saling salip sambil klakson emosi, dan tidak ada drama “yang penting saya duluan”.
 
MRLL ini pada dasarnya sederhana - kurangi konflik, lancarkan arus. Tapi justru kesederhanaan inilah yang selama bertahun-tahun luput. Kita terlalu sering berharap jalan yang sempit bisa menampung kendaraan yang makin hari makin gemuk jumlahnya. Padahal logikanya sederhana - kalau ruang tidak bertambah, yang harus diatur ya cara lewatnya.
 
Memang, ada harga yang harus dibayar. Jarak tempuh jadi sedikit lebih panjang. Pengendara harus memutar. Dan di sinilah drama dimulai. Media sosial penuh keluhan, “Kok jadi jauh?” Padahal faktanya, meski lebih jauh, waktu tempuh justru lebih singkat. Ini seperti naik tangga darurat - tidak elegan, tapi sampai tujuan lebih cepat.
 
Dinas Perhubungan Badung sendiri tampaknya paham betul bahwa rekayasa lalu lintas bukan sulap. Mereka turun tiap hari, mencatat, mengevaluasi, dan mengakui masih ada sumbatan di beberapa mulut simpang. Jalan Mertanadi Utara dan Pengubengan Kauh–Intan masih butuh pelebaran. Rambu masih perlu ditambah. Bahkan tiang listrik pun ikut disorot—karena ternyata, benda yang diam itu juga bisa bikin macet.
 
Yang menarik, Bupati Badung tidak buru-buru mencabut kebijakan ini hanya karena ada yang mengeluh. Justru sebaliknya, MRLL diminta dilanjutkan agar masyarakat punya waktu beradaptasi. Ini langkah yang cukup langka di negeri yang sering panik ketika kebijakan belum langsung disukai.
 
Karena jujur saja, lalu lintas yang tertib itu memang tidak selalu nyaman di awal. Apalagi ketika logika kita dipaksa berubah. Dipaksa patuh. Dipaksa membaca rambu. Tapi kalau tujuannya adalah perjalanan yang lebih cepat dan lebih waras, mungkin sedikit “dipaksa” tidak ada salahnya.
 
Pada akhirnya, MRLL di Kerobokan Kelod bukan sekadar soal jalan satu arah atau dua arah. Ini soal keberanian pemerintah daerah mengakui bahwa kemacetan tidak bisa diselesaikan dengan berharap. Pertumbuhan kendaraan tidak bisa ditahan, sementara jalan tidak bisa disulap jadi dua kali lebih lebar.
 
Jadi, kalau sekarang harus muter sedikit sebelum sampai tujuan, anggap saja itu harga kecil untuk kota yang tidak lagi macet setengah mati. Toh, dalam hidup pun sering begitu - yang lurus belum tentu paling cepat, yang muter sedikit kadang justru paling masuk akal. *(Praktisi Media)
 
Penulis : Arief Wibisono, S.I.Kom., M.I.Kom., CT BNSP




Agenda Bupati

16-03-2026

Agenda Wakil Bupati

16-03-2026

Agenda Sekda

16-03-2026

Galleri

."."."."."."."."."."




Input Permohonan Disini

Pemkab Badung

Website resmi Bagian Protokol Dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Badung

   Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Jalan Raya Sempidi Mengwi - Badung

   0361 9009316

   humaskabupatenbadung@gmail.com

Your message has been sent. Thank you!